Minggu, 12 April 2020

Kenal? Ternyata Bukan Hal Sederhana

Sudah cukup. Sudah hampir satu bulan, dan tak ada tanda akan mereda. Sekian hal sudah kulakukan, namun tak berhasil urungkan niat untuk tetap ingin keluar. Sudah lelah berkutat dengan tugas-tugas kuliah yang rasanya tak kian berujung. Seakan animasi tangled kini aku alami sendiri, walau rumahku bukanlah menara tinggi. Sudah sekian banyak teman yang aku jadikan tempat meracau setiap hari, karena mereka pun sama, sudah tak tahan lagi.
“Kak, kak kia mau kemana?”
Aku sudah berpakaian rapi, hari ini aku putuskan untuk menyudahi berdiam diri di rumah ini. Aku tak mau merasa semakin gila lagi jika terus hanya berdiam diri di rumah, lebih tepatnya di kamar. Sayang, ada hal kecil yang menghambat langkah bebasku.
“Ssstt, Gia sayang jangan berisik, nanti Bunda tahu.” Aku berlutut, dan mengusap lembut pipi gadis kecil yang sedari tadi menatapku heran sambil terus memegangi boneka miliknya. Terlalu menggemaskan hingga tak ada celah untuk sekedar memasang raut marah.
“Apa yang gak boleh Bunda tahu, Nak? Hmm?”
Sempurna, tak ada lagi kesempatan.
“Bun, Kak Kia udah pake baju bagus pasti mau pergi kan, Bun? Tapi kan kata Bunda gak boleh kemana-mana dulu.”
Tak cukup cepat pikiranku berputar memilah kata yang harus keluar. Sudahlah, biar Bunda yang selesaikan semua ulahku ini, dengan cara Bunda.
“Hmm kata siapa kakak mau pergi? Kakak cuma lagi nyoba baju yang baru kakak beli bulan lalu, ya kan ‘Kak?”
“Eh? Ah iya, iya, cuma nyoba baju aja, belum pernah dipake soalnya.” Wah, lihai sekali mulut ini mengikuti irama bohong Bunda.
“Oh gitu, Gia kira kakak mau pergi.” Gadis ini pun kembali menuju ke ruang keluarga, sepertinya melanjutkan permainan rumah-rumahannya yang sempat tertunda gara-gara pakaian rapi ini.
Bunda berbalik menatapku. Mengusap lembut punggung tegang yang sedari tadi mematung. “Ganti bajunya, temenin Bunda rapihin taman belakang ya nak.” Dengan itu, Bunda jalan mendahuluiku mungkin dengan harapan aku akan mengikuti di belakangnya.
Memang cukup layak untuk dikatakan kurang terawat, banyak tanaman yang layu, rumput tumbuh tak beraturan, beberapa pot sudah harus ditambah tanahnya. Kapan ya terakhir kali aku menyambangi taman ini? Aku memang termasuk anak yang jarang sekali pulang ke rumah semenjak masuk perguruan tinggi. Dalam satu semester, bisa dihitung jari berapa kali aku pulang ke rumah, mungkin satu atau dua kali, selain dari faktor jarak kota tempatku belajar dengan rumah yang cukup jauh, terlalu banyak kegiatan atau tugas-tugas kampus yang memaksaku untuk tetap tinggal di tempat kos.
“Sini, duduk sama Bunda.” Bunda menyimpan satu tempat duduk kecil di sampingnya, dan tepat di depan itu sudah banyak tanaman yang Bunda susun untuk siap dilakukan peremajaan. Membuat mereka tampak segar kembali, bisa dibilang peremajaan ‘kan?
“Kakak cabuti rumput yang ada di potnya, nanti biar Bunda yang tambah tanahnya ya, Nak.”
Tak ada perbincangan setelah itu, aku mulai mencabuti rumput-rumput kecil yang tumbuh liar di sekitar tanaman ini, dan Bunda sibuk memasukkan tanah ke pot-pot yang lain. Sampai pada akhirnya…
“Kenapa? Kakak bosan?” Sudah aku kira akan mulai dicecar dengan pertanyaan ini.
“Tadi kakak mau kemana?” Belum sempat aku menjawab pertanyaan sebelumnya, pertanyaan selanjutnya sudah keluar begitu saja.
“Tadinya mau keluar, mau main sama teman.” Fokus Bunda mulai mengarah padaku, bukan pada pot bunga lagi.
“Udah janjian sama temannya?” Tak ada nada marah sedikitpun.
“Iya, udah seminggu aku sama dia ngeluh mulai ngerasa bosan. Sama kayak aku, dia udah mulai uring-uringan. Aku juga emang udah gak betah di rumah. Jadi, ya daripada nanti aku di rumah makin suka jutekin Gia, kan kasian, makanya aku pengen cari angin keluar. Lagian kan, aku pake masker kok, aku bawa hand sanitizer juga, jadi aman kok, Bun.”
Bunda hanya merespon dengan senyum tipisnya, lalu mulai menyentuh pot itu lagi.
“Memang, teman yang kakak ajak ini siapa?”
“Dia Tiara, teman dekat aku dari SMP. Rumahnya ada di komplek sebelah. Bunda ingat gak yang dulu sering banget main kesini? Nah itu Tiara.”
“Kakak sama Tiara dekat banget ya kayaknya?”
“Bukan dekat lagi Bun. Kakak udah tahu banget siapa Tiara, kakak juga udah sering kok main ke rumah Tiara. Mama sama Papa nya Tiara juga udah kenal aku. Mereka baik banget. Ramah juga. Pokoknya kalo aku ke rumah Tiara tuh udah bukan kayak ke orang lain Bun, udah kayak bagian keluarga mereka juga.”
“Jadi, kamu kenal banget ya sama keluarganya Tiara, Nak?”
“Kenal banget Bun. Kan aku kenal mereka bukan setahun dua tahun, tapi dari aku SMP, dan sekarang aku udah kuliah, bukan waktu yang sebentar kan berarti?” Aku menjawab pertanyaan Bunda sambil terus mencabuti rumput-rumput liar.
“Kalau gitu, lebih kenal sama siapa, sama keluarga Tiara, atau sama keluarga Taskia?” Keluarga Taskia? Keluargaku maksudnya?
“Ya, ya keluarga aku dong, Bunda ada ada aja pertanyaannya.” Spontan kedua alisku seakan mendekat satu sama lain.
“Yakin ya?”
“Yakin.”
“Kalo gitu, kakak tahu gak kenapa tadi Gia langsung nanya kakak mau kemana pas dia liat kakak udah rapi?” Bunda sekarang benar-benar menghadapkan tubuhnya ke arahku.
“Karena Gia pengen ikut aku, dia pasti udah pengen keluar juga.” Bunda sontak menggelengkan kepalanya perlahan.
“Dua hari yang lalu, Ibu Ratih kirim pesan ngasih tahu kalau anaknya, Yanu, positif covid-19, Yanu nekat main keluar rumah sama teman-temannya ke warnet di ujung komplek, dan Yanu adalah teman satu kelas Gia. Gia tanya kakak mau kemana, karena Gia takut kakak akan sama nasibnya kayak Yanu.”
Aku tak punya cukup kata untuk membalas penjelasan Bunda.
“Akhir-akhir ini, kakak juga sering ketus sama Ayah, kenapa Nak?”
“Ya, kesel aja Bun. Kadang aku juga pengen ngobrol sama Ayah, tapi semenjak diberlakukan work from home, Ayah selalu di kamar, kan jam kerja cuma sampai sore paling lama, tapi Ayah selalu aja keluar kamar cuma buat ke dapur ngambil makan, abis itu langsung ke kamar lagi.” Helaan nafas Bunda terdengar semakin berat. Apa aku salah? Tapi itulah yang aku lihat.
“Kakak tahu profesi Ayah apa kan Nak?”
“Dosen.”
“Ayah memang jam kerjanya hanya sampai sore, untuk mengajar mata kuliah. Tapi untuk mempersiapkannya? Ayah butuh waktu cukup lama. Ayah tidak terlalu familiar dengan segala teknologi penunjang yang digunakan untuk perkuliahan daring ini, Nak. Dari pagi sampai sore ayah sibuk memberikan kuliah secara daring, setelah semua perkuliahan selesai, Ayah harus menyiapkan bahan ajar untuk perkuliahan esok harinya, bahkan sering sekali sampai lebih dari jam 1 malam baru selesai dan esok paginya harus mengisi perkuliahan lagi. Menyiapkan bahan ajar yang sekiranya mudah dicerna oleh para mahasiswanya dan harus memungkinkan untuk disebarluaskan secara daring bukan hal yang mudah bagi Ayah jika dibandingkan para mahasiswanya yang sangat melek teknologi, itu semua agar tidak sekedar memberikan tugas terus menerus tanpa ada pengarahan dari dosennya, kakak juga merasakannya kan?” Lagi-lagi aku hanya bisa menelan ludah.
“Ternyata masih banyak hal yang aku gak tahu ya Bun dari keluarga aku sendiri.”
“Lagi ngapain nih asik banget berdua aja, gak ajak-ajak Ayah.”
Sontak aku memutar arah tubuhku ke belakang dan sedikit mendongakkan kepalaku ke arah atas untuk melihat Ayah yang sedang bersandar di dekat pintu masuk menuju dapur.
“Yah, nanti malam, aku bantu Ayah nyiapin bahan perkuliahan besok ya, kebetulan aku gak ada tugas kok hari ini.”
Ayah yang tampak bingung langsung melirik ke arah Bunda yang hanya dibalas dengan anggukan pelan tanpa meninggalkan senyum khas Bunda. 
 Memang, rasa bosan pasti menyelimuti banyak orang, bukan hanya aku. Tapi, dalam keadaan seperti ini, pemerintah pasti dengan segala pertimbangan telah menelaah dampak negatif dan positif diberlakukannya work from home, pembelajaran daring, dan anjuran untuk tetap diam di rumah, salah satunya demi menjaga seluruh rakyatnya dari terdampak pandemi covid-19 ini. Secara sekilas, akan terasa sangat membosankan memang, hanya berdiam diri di rumah, melakukan rutinitas yang tampaknya juga membosankan, tak bisa bertemu dengan orang-orang terkasih yang ada di luar sana, namun itu semua juga demi menjaga mereka, demi menyelamatkan banyak manusia. 
Tanpa kita sadari, banyak hal bermakna yang secara tidak langsung bisa kita lakukan di rumah, salah satunya adalah mengenal keluarga lebih dalam lagi. Berkumpul, bercengkrama, bersenda gurau, saling bertukar pikiran, merupakan salah satu langkah saling memotivasi satu sama lain antar anggota keluarga. Ketika kita mampu untuk menjadi dekat dengan orang-orang baru, mengapa tidak untuk mencoba lebih dekat dengan orang-orang yang sudah ada di sekeliling kita, bahkan sejak kita lahir. Menjadikan diri lebih dekat dan lebih mengerti satu sama lain, merupakan hal positif yang ada dibalik pandemi ini. Banyak sisi yang bisa kita ambil dalam melihat suatu keadaan, dan salah satu sisinya adalah menyikapi segala hal dengan lebih positif lagi. Semoga kita semua senantiasa berada dalam lindungan Tuhan dan semoga Indonesia akan segera melewati masa sulitnya.

42 komentar:

  1. Masyaallaah, sungguh cerita diatas dapat menguras air mata saya, terlebih memang kondisi yang sama dengan yang dialami oleh semua orang saat ini. Dari rasa bosan, rasa terpenjara di rumah sendiri, perjuangan orang-orang yang terpaksa untuk bekerja dirumah dan lain-lain. Pengemasan yang begitu apik ini dapat saya beri nilai 9,5/10. Namun mungkin untuk warna tulisannya diberi warna gelap saja agar terbaca dengan seksama.
    Terima kasih telah memberikan saya pelajaran yang berharga dari sepotong kisah diatas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama sekali tidak menyangka akan memberikan efek seperti ini bagi pembaca, terima kasih banyak atas tanggapannya, semoga ada manfaat dari cerita ini untuk kamu ya, terima kasih!

      Hapus
  2. Enak banget bacanya,kata-kata sederhana tapi dalem maknanya:') Good Job Jihan❤

    BalasHapus
  3. Penyampaian informasi yang sangat menarik sekali!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas tanggapannya shella, semoga ada pesan yang bisa diambil ya setelah membaca ini

      Hapus
  4. Suka kontennya tehh, ngangkat tema keseharian ngebuat relate banget sama kondisi sekarang, jadi lebih masuk pesannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, semoga pesan yang dimaksud dapat tersampaikan dengan baik ya untuk teh thahira

      Hapus
  5. Awal-awal baca seperti cerita biasa lama-lama makin bermakna terutama gia gadis kecil dengan kepolosannya tapi punya kasih sayang yang besar kepada kakaknya, banyak amanah yang tersampaikan dari cerita ini ternyata karantina bukan sekedar karantina ya ada hikmah yang bisa kita ambil ada hal2 positif yang bisa kita lakukan untuk lebih dekat dg orang yang sudah lama dekat dengan kita, semangat berkarya terus jhihann untuk menyebar kebaikan😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukurlah kalau eci bisa menerima pesan yang penulis maksud dengan baik, terima kasih atas tanggapannya, dan terima kasih atas dukungannya!

      Hapus
  6. Seketika hatiku merasa tertohok merasa sama seperti tokoh Kia dalam cerita tersebut dan logikaku muncul kembali "Oh iya ya mengapa aku sempat berpikiran seperti ini" padahal banyak sekali pelajaran berarti yang dapat ku petik dari peristiwa sekarang yaitu "KEBERSAMAAN KELUARGA". Terima kasih kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukurlah kalau pesan dari tulisan ini bisa dapat Kania mengerti, terima kasih atas tanggapannya, semoga tulisan ini bisa bermanfaat ya!

      Hapus
  7. terharu banget bacanya:'))) setelah baca ini jadi sadar, kadang kita terlalu egois mikirin diri sendiri sampe lupa kalo semua orang juga lelah berjuang saat ini. Padahal banyak banget hal positif yg bisa kita lakuin dirumah salah satunya quality time sama keluarga yg jarang bgtt ada waktunya kalo ngga lagi quarantine Day gini. Makasihh Jhihan udah bikin cerpen yang sangat menyentuh :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, alhamdulillah seneng banget pesannya bisa tersampaikan dengan baik, semoga tulisan ini bermanfaat ya buat Mauly, terima kasih atas tanggapannya

      Hapus
  8. Bagus banget ceritanya, apalagi saat percakapan Kia sama Bunda nya. Suka banget sama pesan yang mau disampaikan, dan pas banget disaat udah bosen di rumah dan pengen main jadi tercerahkan sama ceritanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kebahagiaan penulis adalah saat pembaca mampu memahami pesan yang dimaksud, terima kasih ya atas tanggapannya, semoga bermanfaat!

      Hapus
  9. Keren, relate banget sama keadaan yang semua kita alami sekarang. Nice story, ijin share kak :D

    BalasHapus
  10. Cerita yang diangkat sangat relate sekali dengan kondisi kita saat ini, kata-katanya pun sangat sederhana dan bagian demi bagian dirangkai dengan baik sehingga para pembaca pun dapat memahami dan mengerti nilai dan makna dari cerita tersebut. I really like it💞

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah jika pesannya bisa tersampaikan dengan baik, juga terimakasih atas tanggapannya, semoga tulisan ini bermanfaat ya!

      Hapus
  11. sangatt menginspirasi, sungguh! it's so amazing han:''

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, semoga pesan dari tulisan ini bisa dipahami ya, terima kasih tanggapannya

      Hapus
  12. Samasama ya, semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk dian

    BalasHapus
  13. Masha Allah, akhirnya kembali lagi buat nulis. Ini keren,Hebat! Lanjutkan 🙏🏻

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih tanggapannya, semoga pesan dari cerita ini dapat dipahami

      Hapus
  14. Ceritanya menarik sekali, menyampaikan pesan yang begitu bermakna bagi pembaca. Terus semangat berkarya jhihan😉

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih ya, semoga tulisan ini sedikitnya bisa bermanfaat

      Hapus
  15. Bagus banget ceritanya menarik juga:') bikin kita sadar akan kondisi saat ini. Keren banget han!💟

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih tanggapannya, semoga tulisan ini bisa sedikit membantu ya di situasi saat ini

      Hapus
  16. Tidak ada rencana yang dapat merugikan hamba-Nya, jika situasi dan kondisinya selalu dibarengi dengan pemikiran yang positif. Semangat terus ega menjadi seorang motivator 🤗

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, terima kasih walau bukan bermaksud memotivasi karena mungkin belum memiliki kapasitas untuk itu, tapi semoga pesan dari tulisan ini dapat bermanfaat ya!

      Hapus
  17. Cerita yang banyak terselip makna di dalamnya, sesuai dengan realita yang sedang kita alami sekarang. Semoga amanah yang tersirat dalam cerita ini bisa bermanfaat bagi pembaca maupun penulis sendiri. Sukses ya, ka! Ditunggu cerita-cerita selanjutnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, semoga kamu bisa mengerti pesan yang dimaksud dari cerita ini ya, terima kasih atas antusiasnya!

      Hapus
  18. Sampai bingung mau komentar apa. Mungkin hal diatas dirasakan semua orang, dimana stres dengan tugas yang tidak ada habisnya, bosan karena setiap hari dirumah terus dll. Namun dari cerita diatas betul sekali, bahwa tempat terbaik disaat kita bosan, kesal, stres dll itu adalah keluarga kita sendiri. Good luck, lanjutkan!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas tanggapannya. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk kamu ya, semoga keluarga tetap menjadi tempat terbaik untuk segala hal

      Hapus
  19. masyaallah.. cerita yang terkandung banyak makna didalamnya. kondisinya relate banget sama keadaan sekarang. khususnya bagi saya sendiri yang menjadi sangat bersyukur bisa mengembangkan kembali hobi selama dirumah. Teruslah menjadi orang yang menginspirasi kawan!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masyaallah, alhamdulillah situasi sulit seperti saat ini bisa memberikan waktu luang untuk kamu untuk mengembangkan kembali hobi yang sempat terabaikan, semoga akan semakin banyak lagi hal-hal yang baik ya, dan semoga tulisan ini sedikitnya bisa bermanfaat untuk kamu, terima kasih atas tanggapan dan dukungannya!

      Hapus
  20. MasyaAllah terimakasih jhihan udah bikin cerpen luar biasa yang sarat akan makna didalamnya. Bener bener jadi pengingat untuk kita agar tidak egois dan selalu mensyukuri segala nikmat yang kita miliki saat ini. Tulisan ini memberikan sisi positif dari kondisi yang kita alami saat ini, suka banget sama tulisannya. Congratulation jhihan!❤️

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, terima kasih Mira! Semoga tulisan aku ini ada manfaatnya ya, untuk kamu khususnya. Terima kasih sudah jadi bagian dari sekian banyak orang yang mendukung!

      Hapus

Bukankah Semuanya Berhak?

“…pemerintah pusat mulai menyalurkan bantuan sosial sembako bagi masyarakat di wilayah Jakarta senilai Rp 600.000 per bulan untuk menek...