“…pemerintah pusat mulai menyalurkan
bantuan sosial sembako bagi masyarakat di wilayah Jakarta senilai Rp 600.000
per bulan untuk menekan dampak pandemi covid-19.”
“…bantuan sosial dari masyarakat, baik
perorangan, yayasan, maupun perusahaan, untuk penanggulangan covid-19 di Jawa
Barat terus mengalir.”
“…pemerintah berikan enam program
bantuan tambahan pandemi covid-19, salah satunya kartu sembako, diberikan
kepada 20 juta penerima, per orang diberikan Rp 200.000 per bulannya dan
totalnya adalah Rp 43.600.000.000.000”
Hampir
di setiap saluran televisi memberitakan hal yang sama, dengan topik yang sama,
yaitu bantuan A, bantuan B, bantuan C, dan bantuan-bantuan lainnya. Hal ini
menyulut rasa penasaranku.
“Yah,
kenapa ya bantuan yang dikasih pemerintah tidak merata?”
Ayah
mengerutkan dahinya, dan menoleh ke kiri tepat padaku.
“Tidak
merata gimana maksudnya, kak?”
“Ya
kita termasuk golongan orang-orang yang terdampak covid-19 kan?”
“Ya
secara umum memang hampir semua orang terdampak pandemi ini, kak.”
“Pemerintah
provinsi kita menyalurkan bantuan untuk masyarakat yang terdampak covid-19 kan ‘Yah?”
“Iyaa,
pemerintah Jawa Barat memberikan bantuan dari banyak pintu, kak.”
Posisi
dudukku yang tadinya menghadap tepat ke arah televisi, karena fokusku bukan
lagi kesana, aku memutar arah dudukku menghadap ayah.
“Lalu,
kenapa aku tidak pernah melihat ada orang yang mengantarkan bantuan ke rumah
kita?”
Belum
sempat ayah menjawab pertanyaanku, bunda keluar dari kamar dan duduk tepat di
sampingku. “Jadi, kakak mau dapat bantuannya?”
“Ya
soalnya kan kita juga terdampak covid-19, bunda. Ayah jadi kerja dari rumah,
aku kuliah dari rumah, Gia juga sekolah dari rumah, dengan begitu kan kebutuhan
kita semakin bertambah untuk akses internet, pengeluaran sehari-hari kita
bertambah, belum lagi kebutuhan sehari-hari yang lain, seperti bahan-bahan
makanan, dan lain sebagainya, berarti kita layak kan bunda untuk dapat bantuan?”
Mendengar
hal itu, ayah dan bunda hanya tertawa kecil.
“Sederhananya
begini, menurut kakak, bantuan itu apa?” Ayah menutup buku bacaan yang ada di
tangannya dan melepaskan kacamatanya.
“Sesuatu
yang diberikan untuk meringankan beban atau kehidupan seseorang?”
“Bisa,
itu juga salah satu definisi bantuan, dari apa yang kakak bilang itu, ketika seseorang
diringankan bebannya oleh orang lain berarti bagaimana beban yang ia tanggung
sampai harus diringankan?”
“Berat.”
“Dalam
kondisi seperti sekarang, siapa kira-kira yang bebannya menjadi berat dengan
adanya pandemi ini?”
“Hmm,
keluarga yang kehidupannya bergantung pada pekerjaan kepala keluarganya,
apalagi jika kepala keluarganya yang mendapat penghasilannya harian, seperti
tukang ojek, pedagang di pasar, atau bahkan buruh pabrik yang pabriknya
terpaksa tutup, pokoknya mereka yang selama pandemi ini pendapatannya jauh
menurun, atau bahkan jadi tidak ada pendapatan sama sekali.”
Ayah
mengangguk mendengar jawabanku. “Kalau ayah?”
“Ya
ayah kan tetap bekerja, walau bukan langsung di kampus, jadi ya ayah tetap
dapat gaji kan yah?”
“Pinter
kakak. Jadi, dengan semua yang kakak bilang tadi, kira-kira wajar gak kalau
keluarga kita tidak dapat bantuan?”
Ah,
jadi seperti itu alurnya. Memang, sampai saat ini aku dan keluarga belum
merasakan kesulitan dari segi materi selama pandemi ini.
“Wajar
kakak menanyakan itu, karena kan kita memang sama-sama masyarakat yang
terdampak covid-19 ini, tapi tentu kan kemampuan pemerintah untuk memberikan
bantuan tidak sebesar yang kita bayangkan, banyak juga yang harus
dipertimbangkan, jadi wajar juga jika pemerintah memprioritaskan mereka yang
lebih membutuhkan dibanding kita, nak.” Bunda ikut menanggapi obrolan aku dan
ayah dari dapur sambil mencuci beberapa sayuran.
“Tapi,
kalau keadaan seperti ini ternyata berlangsung dalam waktu yang cukup panjang,
bukannya tidak menutup kemungkinan kalau akan ada saatnya kita mengalami
kesulitan dari segi materi ‘yah?”
“Mudah-mudahan
keadaan keluarga kita akan tetap terkendali sampai pandemi ini selesai kak,
tapi kalau pun ternyata kemungkinan terburuk terjadi, sebelum kita mengandalkan
bantuan dari orang lain, selagi kita masih punya tabungan, maka kita bisa pakai
itu, nak. Lalu, kalau tabungan habis, jika kita masih punya aset yang sekiranya
bisa kita jual untuk memenuhi kebutuhan hidup kita, itu lebih baik dibanding
langsung mengandalkan bantuan dari orang lain. Ketika keduanya sudah tidak ada
lagi, barulah ayah rasa kita berhak mendapat bantuan, termasuk dari pemerintah.”
“Bahkan,
selagi kita masih berkecukupan, dibanding harus terus mengharap bantuan orang
lain, kenapa bukan kita yang membantu orang lain?” Bunda menghampiri kami dan
menyandarkan kepalanya pada bahuku.
“Aku
mulai paham sekarang.”
“Ya
sudah, sekarang bantu bunda masak ya buat buka puasa nanti.” Ajak bunda mencoba
mengangkat tubuhku dari duduk.
Saat
ini, memang keadaan terasa sulit bagi banyak orang, ada yang kesulitan
beradaptasi dengan cara hidup baru yang serba daring, ada yang kesulitan
memikirkan bagaimana nasib pekerjaannya, ada yang kesulitan mengatur segala
kebutuhan sehari-hari dengan sisa materi yang ada, bahkan ada yang kesulitan
memikirkan nasib orang banyak yang keberlangsungan hidup mereka bergantung pada
tindakan yang ia ambil. Semua memiliki kesulitan masing-masing, dan setiap
orang seakan menuntut orang-orang di sekitarnya untuk setidaknya mempermudah
kesulitan yang dialami.
Namun,
untuk saat ini, sepertinya penting untuk mengedepankan siapa yang paling
membutuhkan. Setidaknya, jika kita belum mampu untuk membantu dengan tindakan
yang nyata, baik itu materi, tenaga, atau bahkan dedikasi, kenapa tidak kita
membantu dengan meredam ego masing-masing dan tetap melihat semua hal dari
berbagai sudut pandang. Semoga kita semua senantiasa berada dalam lindungan
Tuhan dan Indonesia akan segera melewati masa sulitnya.