Senin, 04 Mei 2020

Bukankah Semuanya Berhak?



“…pemerintah pusat mulai menyalurkan bantuan sosial sembako bagi masyarakat di wilayah Jakarta senilai Rp 600.000 per bulan untuk menekan dampak pandemi covid-19.”

“…bantuan sosial dari masyarakat, baik perorangan, yayasan, maupun perusahaan, untuk penanggulangan covid-19 di Jawa Barat terus mengalir.”

“…pemerintah berikan enam program bantuan tambahan pandemi covid-19, salah satunya kartu sembako, diberikan kepada 20 juta penerima, per orang diberikan Rp 200.000 per bulannya dan totalnya adalah Rp 43.600.000.000.000”

Hampir di setiap saluran televisi memberitakan hal yang sama, dengan topik yang sama, yaitu bantuan A, bantuan B, bantuan C, dan bantuan-bantuan lainnya. Hal ini menyulut rasa penasaranku.
“Yah, kenapa ya bantuan yang dikasih pemerintah tidak merata?”
Ayah mengerutkan dahinya, dan menoleh ke kiri tepat padaku.
“Tidak merata gimana maksudnya, kak?”
“Ya kita termasuk golongan orang-orang yang terdampak covid-19 kan?”
“Ya secara umum memang hampir semua orang terdampak pandemi ini, kak.”
“Pemerintah provinsi kita menyalurkan bantuan untuk masyarakat yang terdampak covid-19 kan ‘Yah?”
“Iyaa, pemerintah Jawa Barat memberikan bantuan dari banyak pintu, kak.”
Posisi dudukku yang tadinya menghadap tepat ke arah televisi, karena fokusku bukan lagi kesana, aku memutar arah dudukku menghadap ayah.
“Lalu, kenapa aku tidak pernah melihat ada orang yang mengantarkan bantuan ke rumah kita?”
Belum sempat ayah menjawab pertanyaanku, bunda keluar dari kamar dan duduk tepat di sampingku. “Jadi, kakak mau dapat bantuannya?”
“Ya soalnya kan kita juga terdampak covid-19, bunda. Ayah jadi kerja dari rumah, aku kuliah dari rumah, Gia juga sekolah dari rumah, dengan begitu kan kebutuhan kita semakin bertambah untuk akses internet, pengeluaran sehari-hari kita bertambah, belum lagi kebutuhan sehari-hari yang lain, seperti bahan-bahan makanan, dan lain sebagainya, berarti kita layak kan bunda untuk dapat bantuan?”
Mendengar hal itu, ayah dan bunda hanya tertawa kecil.
“Sederhananya begini, menurut kakak, bantuan itu apa?” Ayah menutup buku bacaan yang ada di tangannya dan melepaskan kacamatanya.
“Sesuatu yang diberikan untuk meringankan beban atau kehidupan seseorang?”
“Bisa, itu juga salah satu definisi bantuan, dari apa yang kakak bilang itu, ketika seseorang diringankan bebannya oleh orang lain berarti bagaimana beban yang ia tanggung sampai harus diringankan?”
“Berat.”
“Dalam kondisi seperti sekarang, siapa kira-kira yang bebannya menjadi berat dengan adanya pandemi ini?”
“Hmm, keluarga yang kehidupannya bergantung pada pekerjaan kepala keluarganya, apalagi jika kepala keluarganya yang mendapat penghasilannya harian, seperti tukang ojek, pedagang di pasar, atau bahkan buruh pabrik yang pabriknya terpaksa tutup, pokoknya mereka yang selama pandemi ini pendapatannya jauh menurun, atau bahkan jadi tidak ada pendapatan sama sekali.”
Ayah mengangguk mendengar jawabanku. “Kalau ayah?”
“Ya ayah kan tetap bekerja, walau bukan langsung di kampus, jadi ya ayah tetap dapat gaji kan yah?”
“Pinter kakak. Jadi, dengan semua yang kakak bilang tadi, kira-kira wajar gak kalau keluarga kita tidak dapat bantuan?”
Ah, jadi seperti itu alurnya. Memang, sampai saat ini aku dan keluarga belum merasakan kesulitan dari segi materi selama pandemi ini.
“Wajar kakak menanyakan itu, karena kan kita memang sama-sama masyarakat yang terdampak covid-19 ini, tapi tentu kan kemampuan pemerintah untuk memberikan bantuan tidak sebesar yang kita bayangkan, banyak juga yang harus dipertimbangkan, jadi wajar juga jika pemerintah memprioritaskan mereka yang lebih membutuhkan dibanding kita, nak.” Bunda ikut menanggapi obrolan aku dan ayah dari dapur sambil mencuci beberapa sayuran.
“Tapi, kalau keadaan seperti ini ternyata berlangsung dalam waktu yang cukup panjang, bukannya tidak menutup kemungkinan kalau akan ada saatnya kita mengalami kesulitan dari segi materi ‘yah?”
“Mudah-mudahan keadaan keluarga kita akan tetap terkendali sampai pandemi ini selesai kak, tapi kalau pun ternyata kemungkinan terburuk terjadi, sebelum kita mengandalkan bantuan dari orang lain, selagi kita masih punya tabungan, maka kita bisa pakai itu, nak. Lalu, kalau tabungan habis, jika kita masih punya aset yang sekiranya bisa kita jual untuk memenuhi kebutuhan hidup kita, itu lebih baik dibanding langsung mengandalkan bantuan dari orang lain. Ketika keduanya sudah tidak ada lagi, barulah ayah rasa kita berhak mendapat bantuan, termasuk dari pemerintah.”
“Bahkan, selagi kita masih berkecukupan, dibanding harus terus mengharap bantuan orang lain, kenapa bukan kita yang membantu orang lain?” Bunda menghampiri kami dan menyandarkan kepalanya pada bahuku.
“Aku mulai paham sekarang.”
“Ya sudah, sekarang bantu bunda masak ya buat buka puasa nanti.” Ajak bunda mencoba mengangkat tubuhku dari duduk.

Saat ini, memang keadaan terasa sulit bagi banyak orang, ada yang kesulitan beradaptasi dengan cara hidup baru yang serba daring, ada yang kesulitan memikirkan bagaimana nasib pekerjaannya, ada yang kesulitan mengatur segala kebutuhan sehari-hari dengan sisa materi yang ada, bahkan ada yang kesulitan memikirkan nasib orang banyak yang keberlangsungan hidup mereka bergantung pada tindakan yang ia ambil. Semua memiliki kesulitan masing-masing, dan setiap orang seakan menuntut orang-orang di sekitarnya untuk setidaknya mempermudah kesulitan yang dialami.
Namun, untuk saat ini, sepertinya penting untuk mengedepankan siapa yang paling membutuhkan. Setidaknya, jika kita belum mampu untuk membantu dengan tindakan yang nyata, baik itu materi, tenaga, atau bahkan dedikasi, kenapa tidak kita membantu dengan meredam ego masing-masing dan tetap melihat semua hal dari berbagai sudut pandang. Semoga kita semua senantiasa berada dalam lindungan Tuhan dan Indonesia akan segera melewati masa sulitnya.

Minggu, 12 April 2020

Kenal? Ternyata Bukan Hal Sederhana

Sudah cukup. Sudah hampir satu bulan, dan tak ada tanda akan mereda. Sekian hal sudah kulakukan, namun tak berhasil urungkan niat untuk tetap ingin keluar. Sudah lelah berkutat dengan tugas-tugas kuliah yang rasanya tak kian berujung. Seakan animasi tangled kini aku alami sendiri, walau rumahku bukanlah menara tinggi. Sudah sekian banyak teman yang aku jadikan tempat meracau setiap hari, karena mereka pun sama, sudah tak tahan lagi.
“Kak, kak kia mau kemana?”
Aku sudah berpakaian rapi, hari ini aku putuskan untuk menyudahi berdiam diri di rumah ini. Aku tak mau merasa semakin gila lagi jika terus hanya berdiam diri di rumah, lebih tepatnya di kamar. Sayang, ada hal kecil yang menghambat langkah bebasku.
“Ssstt, Gia sayang jangan berisik, nanti Bunda tahu.” Aku berlutut, dan mengusap lembut pipi gadis kecil yang sedari tadi menatapku heran sambil terus memegangi boneka miliknya. Terlalu menggemaskan hingga tak ada celah untuk sekedar memasang raut marah.
“Apa yang gak boleh Bunda tahu, Nak? Hmm?”
Sempurna, tak ada lagi kesempatan.
“Bun, Kak Kia udah pake baju bagus pasti mau pergi kan, Bun? Tapi kan kata Bunda gak boleh kemana-mana dulu.”
Tak cukup cepat pikiranku berputar memilah kata yang harus keluar. Sudahlah, biar Bunda yang selesaikan semua ulahku ini, dengan cara Bunda.
“Hmm kata siapa kakak mau pergi? Kakak cuma lagi nyoba baju yang baru kakak beli bulan lalu, ya kan ‘Kak?”
“Eh? Ah iya, iya, cuma nyoba baju aja, belum pernah dipake soalnya.” Wah, lihai sekali mulut ini mengikuti irama bohong Bunda.
“Oh gitu, Gia kira kakak mau pergi.” Gadis ini pun kembali menuju ke ruang keluarga, sepertinya melanjutkan permainan rumah-rumahannya yang sempat tertunda gara-gara pakaian rapi ini.
Bunda berbalik menatapku. Mengusap lembut punggung tegang yang sedari tadi mematung. “Ganti bajunya, temenin Bunda rapihin taman belakang ya nak.” Dengan itu, Bunda jalan mendahuluiku mungkin dengan harapan aku akan mengikuti di belakangnya.
Memang cukup layak untuk dikatakan kurang terawat, banyak tanaman yang layu, rumput tumbuh tak beraturan, beberapa pot sudah harus ditambah tanahnya. Kapan ya terakhir kali aku menyambangi taman ini? Aku memang termasuk anak yang jarang sekali pulang ke rumah semenjak masuk perguruan tinggi. Dalam satu semester, bisa dihitung jari berapa kali aku pulang ke rumah, mungkin satu atau dua kali, selain dari faktor jarak kota tempatku belajar dengan rumah yang cukup jauh, terlalu banyak kegiatan atau tugas-tugas kampus yang memaksaku untuk tetap tinggal di tempat kos.
“Sini, duduk sama Bunda.” Bunda menyimpan satu tempat duduk kecil di sampingnya, dan tepat di depan itu sudah banyak tanaman yang Bunda susun untuk siap dilakukan peremajaan. Membuat mereka tampak segar kembali, bisa dibilang peremajaan ‘kan?
“Kakak cabuti rumput yang ada di potnya, nanti biar Bunda yang tambah tanahnya ya, Nak.”
Tak ada perbincangan setelah itu, aku mulai mencabuti rumput-rumput kecil yang tumbuh liar di sekitar tanaman ini, dan Bunda sibuk memasukkan tanah ke pot-pot yang lain. Sampai pada akhirnya…
“Kenapa? Kakak bosan?” Sudah aku kira akan mulai dicecar dengan pertanyaan ini.
“Tadi kakak mau kemana?” Belum sempat aku menjawab pertanyaan sebelumnya, pertanyaan selanjutnya sudah keluar begitu saja.
“Tadinya mau keluar, mau main sama teman.” Fokus Bunda mulai mengarah padaku, bukan pada pot bunga lagi.
“Udah janjian sama temannya?” Tak ada nada marah sedikitpun.
“Iya, udah seminggu aku sama dia ngeluh mulai ngerasa bosan. Sama kayak aku, dia udah mulai uring-uringan. Aku juga emang udah gak betah di rumah. Jadi, ya daripada nanti aku di rumah makin suka jutekin Gia, kan kasian, makanya aku pengen cari angin keluar. Lagian kan, aku pake masker kok, aku bawa hand sanitizer juga, jadi aman kok, Bun.”
Bunda hanya merespon dengan senyum tipisnya, lalu mulai menyentuh pot itu lagi.
“Memang, teman yang kakak ajak ini siapa?”
“Dia Tiara, teman dekat aku dari SMP. Rumahnya ada di komplek sebelah. Bunda ingat gak yang dulu sering banget main kesini? Nah itu Tiara.”
“Kakak sama Tiara dekat banget ya kayaknya?”
“Bukan dekat lagi Bun. Kakak udah tahu banget siapa Tiara, kakak juga udah sering kok main ke rumah Tiara. Mama sama Papa nya Tiara juga udah kenal aku. Mereka baik banget. Ramah juga. Pokoknya kalo aku ke rumah Tiara tuh udah bukan kayak ke orang lain Bun, udah kayak bagian keluarga mereka juga.”
“Jadi, kamu kenal banget ya sama keluarganya Tiara, Nak?”
“Kenal banget Bun. Kan aku kenal mereka bukan setahun dua tahun, tapi dari aku SMP, dan sekarang aku udah kuliah, bukan waktu yang sebentar kan berarti?” Aku menjawab pertanyaan Bunda sambil terus mencabuti rumput-rumput liar.
“Kalau gitu, lebih kenal sama siapa, sama keluarga Tiara, atau sama keluarga Taskia?” Keluarga Taskia? Keluargaku maksudnya?
“Ya, ya keluarga aku dong, Bunda ada ada aja pertanyaannya.” Spontan kedua alisku seakan mendekat satu sama lain.
“Yakin ya?”
“Yakin.”
“Kalo gitu, kakak tahu gak kenapa tadi Gia langsung nanya kakak mau kemana pas dia liat kakak udah rapi?” Bunda sekarang benar-benar menghadapkan tubuhnya ke arahku.
“Karena Gia pengen ikut aku, dia pasti udah pengen keluar juga.” Bunda sontak menggelengkan kepalanya perlahan.
“Dua hari yang lalu, Ibu Ratih kirim pesan ngasih tahu kalau anaknya, Yanu, positif covid-19, Yanu nekat main keluar rumah sama teman-temannya ke warnet di ujung komplek, dan Yanu adalah teman satu kelas Gia. Gia tanya kakak mau kemana, karena Gia takut kakak akan sama nasibnya kayak Yanu.”
Aku tak punya cukup kata untuk membalas penjelasan Bunda.
“Akhir-akhir ini, kakak juga sering ketus sama Ayah, kenapa Nak?”
“Ya, kesel aja Bun. Kadang aku juga pengen ngobrol sama Ayah, tapi semenjak diberlakukan work from home, Ayah selalu di kamar, kan jam kerja cuma sampai sore paling lama, tapi Ayah selalu aja keluar kamar cuma buat ke dapur ngambil makan, abis itu langsung ke kamar lagi.” Helaan nafas Bunda terdengar semakin berat. Apa aku salah? Tapi itulah yang aku lihat.
“Kakak tahu profesi Ayah apa kan Nak?”
“Dosen.”
“Ayah memang jam kerjanya hanya sampai sore, untuk mengajar mata kuliah. Tapi untuk mempersiapkannya? Ayah butuh waktu cukup lama. Ayah tidak terlalu familiar dengan segala teknologi penunjang yang digunakan untuk perkuliahan daring ini, Nak. Dari pagi sampai sore ayah sibuk memberikan kuliah secara daring, setelah semua perkuliahan selesai, Ayah harus menyiapkan bahan ajar untuk perkuliahan esok harinya, bahkan sering sekali sampai lebih dari jam 1 malam baru selesai dan esok paginya harus mengisi perkuliahan lagi. Menyiapkan bahan ajar yang sekiranya mudah dicerna oleh para mahasiswanya dan harus memungkinkan untuk disebarluaskan secara daring bukan hal yang mudah bagi Ayah jika dibandingkan para mahasiswanya yang sangat melek teknologi, itu semua agar tidak sekedar memberikan tugas terus menerus tanpa ada pengarahan dari dosennya, kakak juga merasakannya kan?” Lagi-lagi aku hanya bisa menelan ludah.
“Ternyata masih banyak hal yang aku gak tahu ya Bun dari keluarga aku sendiri.”
“Lagi ngapain nih asik banget berdua aja, gak ajak-ajak Ayah.”
Sontak aku memutar arah tubuhku ke belakang dan sedikit mendongakkan kepalaku ke arah atas untuk melihat Ayah yang sedang bersandar di dekat pintu masuk menuju dapur.
“Yah, nanti malam, aku bantu Ayah nyiapin bahan perkuliahan besok ya, kebetulan aku gak ada tugas kok hari ini.”
Ayah yang tampak bingung langsung melirik ke arah Bunda yang hanya dibalas dengan anggukan pelan tanpa meninggalkan senyum khas Bunda. 
 Memang, rasa bosan pasti menyelimuti banyak orang, bukan hanya aku. Tapi, dalam keadaan seperti ini, pemerintah pasti dengan segala pertimbangan telah menelaah dampak negatif dan positif diberlakukannya work from home, pembelajaran daring, dan anjuran untuk tetap diam di rumah, salah satunya demi menjaga seluruh rakyatnya dari terdampak pandemi covid-19 ini. Secara sekilas, akan terasa sangat membosankan memang, hanya berdiam diri di rumah, melakukan rutinitas yang tampaknya juga membosankan, tak bisa bertemu dengan orang-orang terkasih yang ada di luar sana, namun itu semua juga demi menjaga mereka, demi menyelamatkan banyak manusia. 
Tanpa kita sadari, banyak hal bermakna yang secara tidak langsung bisa kita lakukan di rumah, salah satunya adalah mengenal keluarga lebih dalam lagi. Berkumpul, bercengkrama, bersenda gurau, saling bertukar pikiran, merupakan salah satu langkah saling memotivasi satu sama lain antar anggota keluarga. Ketika kita mampu untuk menjadi dekat dengan orang-orang baru, mengapa tidak untuk mencoba lebih dekat dengan orang-orang yang sudah ada di sekeliling kita, bahkan sejak kita lahir. Menjadikan diri lebih dekat dan lebih mengerti satu sama lain, merupakan hal positif yang ada dibalik pandemi ini. Banyak sisi yang bisa kita ambil dalam melihat suatu keadaan, dan salah satu sisinya adalah menyikapi segala hal dengan lebih positif lagi. Semoga kita semua senantiasa berada dalam lindungan Tuhan dan semoga Indonesia akan segera melewati masa sulitnya.

Bukankah Semuanya Berhak?

“…pemerintah pusat mulai menyalurkan bantuan sosial sembako bagi masyarakat di wilayah Jakarta senilai Rp 600.000 per bulan untuk menek...