Sudah
cukup. Sudah hampir satu bulan, dan tak ada tanda akan mereda. Sekian hal sudah
kulakukan, namun tak berhasil urungkan niat untuk tetap ingin keluar. Sudah
lelah berkutat dengan tugas-tugas kuliah yang rasanya tak kian berujung. Seakan
animasi tangled kini aku alami
sendiri, walau rumahku bukanlah menara tinggi. Sudah sekian banyak teman yang
aku jadikan tempat meracau setiap hari, karena mereka pun sama, sudah tak tahan
lagi.
“Kak,
kak kia mau kemana?”
Aku
sudah berpakaian rapi, hari ini aku putuskan untuk menyudahi berdiam diri di
rumah ini. Aku tak mau merasa semakin gila lagi jika terus hanya berdiam diri
di rumah, lebih tepatnya di kamar. Sayang, ada hal kecil yang menghambat
langkah bebasku.
“Ssstt,
Gia sayang jangan berisik, nanti Bunda tahu.” Aku berlutut, dan mengusap lembut
pipi gadis kecil yang sedari tadi menatapku heran sambil terus memegangi boneka
miliknya. Terlalu menggemaskan hingga tak ada celah untuk sekedar memasang raut
marah.
“Apa
yang gak boleh Bunda tahu, Nak? Hmm?”
Sempurna,
tak ada lagi kesempatan.
“Bun,
Kak Kia udah pake baju bagus pasti mau pergi kan, Bun? Tapi kan kata Bunda gak
boleh kemana-mana dulu.”
Tak
cukup cepat pikiranku berputar memilah kata yang harus keluar. Sudahlah, biar
Bunda yang selesaikan semua ulahku ini, dengan cara Bunda.
“Hmm
kata siapa kakak mau pergi? Kakak cuma lagi nyoba baju yang baru kakak beli
bulan lalu, ya kan ‘Kak?”
“Eh?
Ah iya, iya, cuma nyoba baju aja, belum pernah dipake soalnya.” Wah, lihai
sekali mulut ini mengikuti irama bohong Bunda.
“Oh
gitu, Gia kira kakak mau pergi.” Gadis ini pun kembali menuju ke ruang
keluarga, sepertinya melanjutkan permainan rumah-rumahannya yang sempat tertunda
gara-gara pakaian rapi ini.
Bunda
berbalik menatapku. Mengusap lembut punggung tegang yang sedari tadi mematung. “Ganti
bajunya, temenin Bunda rapihin taman belakang ya nak.” Dengan itu, Bunda jalan
mendahuluiku mungkin dengan harapan aku akan mengikuti di belakangnya.
Memang
cukup layak untuk dikatakan kurang terawat, banyak tanaman yang layu, rumput
tumbuh tak beraturan, beberapa pot sudah harus ditambah tanahnya. Kapan ya
terakhir kali aku menyambangi taman ini? Aku memang termasuk anak yang jarang sekali
pulang ke rumah semenjak masuk perguruan tinggi. Dalam satu semester, bisa
dihitung jari berapa kali aku pulang ke rumah, mungkin satu atau dua kali,
selain dari faktor jarak kota tempatku belajar dengan rumah yang cukup jauh,
terlalu banyak kegiatan atau tugas-tugas kampus yang memaksaku untuk tetap
tinggal di tempat kos.
“Sini,
duduk sama Bunda.” Bunda menyimpan satu tempat duduk kecil di sampingnya, dan
tepat di depan itu sudah banyak tanaman yang Bunda susun untuk siap dilakukan
peremajaan. Membuat mereka tampak segar kembali, bisa dibilang peremajaan ‘kan?
“Kakak
cabuti rumput yang ada di potnya, nanti biar Bunda yang tambah tanahnya ya,
Nak.”
Tak
ada perbincangan setelah itu, aku mulai mencabuti rumput-rumput kecil yang
tumbuh liar di sekitar tanaman ini, dan Bunda sibuk memasukkan tanah ke pot-pot
yang lain. Sampai pada akhirnya…
“Kenapa?
Kakak bosan?” Sudah aku kira akan mulai dicecar dengan pertanyaan ini.
“Tadi
kakak mau kemana?” Belum sempat aku menjawab pertanyaan sebelumnya, pertanyaan
selanjutnya sudah keluar begitu saja.
“Tadinya
mau keluar, mau main sama teman.” Fokus Bunda mulai mengarah padaku, bukan pada
pot bunga lagi.
“Udah
janjian sama temannya?” Tak ada nada marah sedikitpun.
“Iya,
udah seminggu aku sama dia ngeluh mulai ngerasa bosan. Sama kayak aku, dia udah
mulai uring-uringan. Aku juga emang udah gak betah di rumah. Jadi, ya daripada nanti
aku di rumah makin suka jutekin Gia, kan kasian, makanya aku pengen cari angin
keluar. Lagian kan, aku pake masker kok, aku bawa hand sanitizer juga, jadi aman kok, Bun.”
Bunda
hanya merespon dengan senyum tipisnya, lalu mulai menyentuh pot itu lagi.
“Memang,
teman yang kakak ajak ini siapa?”
“Dia
Tiara, teman dekat aku dari SMP. Rumahnya ada di komplek sebelah. Bunda ingat
gak yang dulu sering banget main kesini? Nah itu Tiara.”
“Kakak
sama Tiara dekat banget ya kayaknya?”
“Bukan
dekat lagi Bun. Kakak udah tahu banget siapa Tiara, kakak juga udah sering
kok main ke rumah Tiara. Mama sama Papa nya Tiara juga udah kenal aku. Mereka
baik banget. Ramah juga. Pokoknya kalo aku ke rumah Tiara tuh udah bukan kayak ke
orang lain Bun, udah kayak bagian keluarga mereka juga.”
“Jadi,
kamu kenal banget ya sama keluarganya Tiara, Nak?”
“Kenal
banget Bun. Kan aku kenal mereka bukan setahun dua tahun, tapi dari aku SMP,
dan sekarang aku udah kuliah, bukan waktu yang sebentar kan berarti?” Aku menjawab
pertanyaan Bunda sambil terus mencabuti rumput-rumput liar.
“Kalau
gitu, lebih kenal sama siapa, sama keluarga Tiara, atau sama keluarga Taskia?”
Keluarga Taskia? Keluargaku maksudnya?
“Ya,
ya keluarga aku dong, Bunda ada ada aja pertanyaannya.” Spontan kedua alisku
seakan mendekat satu sama lain.
“Yakin
ya?”
“Yakin.”
“Kalo
gitu, kakak tahu gak kenapa tadi Gia langsung nanya kakak mau kemana pas dia
liat kakak udah rapi?” Bunda sekarang benar-benar menghadapkan tubuhnya ke
arahku.
“Karena
Gia pengen ikut aku, dia pasti udah pengen keluar juga.” Bunda sontak
menggelengkan kepalanya perlahan.
“Dua
hari yang lalu, Ibu Ratih kirim pesan ngasih tahu kalau anaknya, Yanu, positif
covid-19, Yanu nekat main keluar rumah sama teman-temannya ke warnet di ujung
komplek, dan Yanu adalah teman satu kelas Gia. Gia tanya kakak mau kemana,
karena Gia takut kakak akan sama nasibnya kayak Yanu.”
Aku
tak punya cukup kata untuk membalas penjelasan Bunda.
“Akhir-akhir
ini, kakak juga sering ketus sama Ayah, kenapa Nak?”
“Ya,
kesel aja Bun. Kadang aku juga pengen ngobrol sama Ayah, tapi semenjak
diberlakukan work from home, Ayah
selalu di kamar, kan jam kerja cuma sampai sore paling lama, tapi Ayah selalu
aja keluar kamar cuma buat ke dapur ngambil makan, abis itu langsung ke kamar
lagi.” Helaan nafas Bunda terdengar semakin berat. Apa aku salah? Tapi itulah
yang aku lihat.
“Kakak
tahu profesi Ayah apa kan Nak?”
“Dosen.”
“Ayah
memang jam kerjanya hanya sampai sore, untuk mengajar mata kuliah. Tapi untuk
mempersiapkannya? Ayah butuh waktu cukup lama. Ayah tidak terlalu familiar
dengan segala teknologi penunjang yang digunakan untuk perkuliahan daring ini,
Nak. Dari pagi sampai sore ayah sibuk memberikan kuliah secara daring, setelah
semua perkuliahan selesai, Ayah harus menyiapkan bahan ajar untuk perkuliahan
esok harinya, bahkan sering sekali sampai lebih dari jam 1 malam baru selesai
dan esok paginya harus mengisi perkuliahan lagi. Menyiapkan bahan ajar yang
sekiranya mudah dicerna oleh para mahasiswanya dan harus memungkinkan untuk
disebarluaskan secara daring bukan hal yang mudah bagi Ayah jika dibandingkan
para mahasiswanya yang sangat melek teknologi, itu semua agar tidak sekedar
memberikan tugas terus menerus tanpa ada pengarahan dari dosennya, kakak juga
merasakannya kan?” Lagi-lagi aku hanya bisa menelan ludah.
“Ternyata
masih banyak hal yang aku gak tahu ya Bun dari keluarga aku sendiri.”
“Lagi
ngapain nih asik banget berdua aja, gak ajak-ajak Ayah.”
Sontak
aku memutar arah tubuhku ke belakang dan sedikit mendongakkan kepalaku ke arah atas
untuk melihat Ayah yang sedang bersandar di dekat pintu masuk menuju dapur.
“Yah,
nanti malam, aku bantu Ayah nyiapin bahan perkuliahan besok ya, kebetulan aku
gak ada tugas kok hari ini.”
Ayah
yang tampak bingung langsung melirik ke arah Bunda yang hanya dibalas dengan
anggukan pelan tanpa meninggalkan senyum khas Bunda.
Memang, rasa bosan pasti
menyelimuti banyak orang, bukan hanya aku. Tapi, dalam keadaan seperti ini,
pemerintah pasti dengan segala pertimbangan telah menelaah dampak negatif dan
positif diberlakukannya work from home,
pembelajaran daring, dan anjuran untuk tetap diam di rumah, salah satunya demi
menjaga seluruh rakyatnya dari terdampak pandemi covid-19 ini. Secara sekilas,
akan terasa sangat membosankan memang, hanya berdiam diri di rumah, melakukan
rutinitas yang tampaknya juga membosankan, tak bisa bertemu dengan orang-orang
terkasih yang ada di luar sana, namun itu semua juga demi menjaga mereka, demi
menyelamatkan banyak manusia.
Tanpa kita sadari, banyak hal bermakna yang secara
tidak langsung bisa kita lakukan di rumah, salah satunya adalah mengenal
keluarga lebih dalam lagi. Berkumpul, bercengkrama, bersenda gurau, saling bertukar pikiran, merupakan
salah satu langkah saling memotivasi satu sama lain antar anggota keluarga. Ketika
kita mampu untuk menjadi dekat dengan orang-orang baru, mengapa tidak untuk
mencoba lebih dekat dengan orang-orang yang sudah ada di sekeliling kita,
bahkan sejak kita lahir. Menjadikan diri lebih dekat dan lebih mengerti satu
sama lain, merupakan hal positif yang ada dibalik pandemi ini. Banyak sisi yang
bisa kita ambil dalam melihat suatu keadaan, dan salah satu sisinya adalah
menyikapi segala hal dengan lebih positif lagi. Semoga kita semua senantiasa
berada dalam lindungan Tuhan dan semoga Indonesia akan segera melewati masa sulitnya.